Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil kelapa, karena sebagai tanaman serbaguna yang telah memberikan kehidupan kepada petani di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan tingkat penguasaan tanaman kelapa di Indonesia, yaitu 98% merupakan perkebunan rakyat (Thantiyo, 2010:1). Buah dari tanaman kelapa memiliki sumber protein nabati yang bagus dan dapat diolah menjadi aneka produk yang bermanfaat bagi manusia. Pertumbuhan dan produktivitas kelapa seringkali dipengaruhi oleh faktor hama. Salah satu hama utama yang mempengaruhi kelapa adalah belalang pedang (Sexava nubila).

Gambar 1. Belalang pedang (Sexava nubila)
Sumber: https://www.researchgate.net/figure/Gambar-2-Imago-Sexava-nubila-yang-mati-di-sekitar-tanaman-sawit-Figure-2-Dead-imago-of_fig2_323422023
IDENTIFIKASI
Belalang pedang umumnya mengalami metamorfosis sederhana (Paurometabola) yakni telur, larva dan imago (belalang dewasa). Imago betina akan meletakkan telurnya pada malam hari di dalam tanah atau pasir dekat batang kelapa di kedalaman 1 – 5 cm. Tanah yang disukai oleh belalang betina untuk meletakkan telur adalah tanah liat yang lembab bercampur pasir. Satu ekor belalang betina yang dipelihara di laboratorium dapat meletakkan telur sebanyak 53 butir. Dalam satu pohon kelapa bisa tersedia berbagai tahapan hidup belalang, mulai dari larva hingga imago. Daur hidup S. nubila, mulai telur diletakkan sampai imago meletakkan telur pertama kali ± 5 bulan (150 hari) (Tjoa, 1953) atau 183 hari (Warouw, 1981). Belalang dewasa ajan turun ke bawah pohon pada malam hari untuk bertelur kemudian memanjat lagi. Imago betina mulai meletakkan telur setelah berumur sekitar satu bulan. Imago Sexava tidak dapat terbang jauh, oleh karena itu serangga tersebut hanya tinggal di satu tempat dan hampir tidak berpindah tempat.
TELUR
Bentuk dan warna telur S. nubila seperti buah padi masak (gabah). Telur-telur ini memiliki panjang sekitar 12-13 mm dengan lebar 2-3 mm. Salah satu ujung telur lancip dan lainnya bulat. Tahapan telur akan berlangsung selama 45 hari (Warouw, 1981).
LARVA
Larva yang baru muncul dari telur memiliki antenna yang halus seperti rambut dan panjangnya sampai 9 cm. Larva muda dan tua berwarna hijau, tetapi kadang-kadang berwarna coklat. Panjang tubuh larva jantan tua dapat mencapai 6 cm dan panjang antenanya 14 cm serta mulai terlihat bakal sayapnya. Lama tahapan larva belangsung sekitar 70-108 hari (Warouw, 1981).
IMAGO
Imago berwarna hijau, antena merah muda dan matanya abu-abu. Alat peletak telur (ovipositor) berwarna hijau pada bagian pangkalnya yaitu sepertiga dari panjang ovipositor, sepertiga lagi berwarna kemerahan dan bagian ujungnya berwarna hitam. Panjang imago betina (kepala + badan + ovipositor). Panjang imago jantan 6 – 9.5 cm dan antenanya 14-16 cm.
KERUSAKAN
Seringkali belalang muda dan tua memakan daun kelapa dari pinggir, meninggalkan bekas yang tidak rata. Serangan akan dimulai dari pelepah bawah. Sebelum daun di bagian bawah habis dimakan, hama ini pindah ke daun sebelah atas. Untuk serangan berat, yang tertinggal hanya beberapa pelepah puncak, sedangkan daun-daun di bagian bawah tinggal lidinya saja sehingga tanaman kelapa tidak lagi produktif dan menghasilan buah selama 1-2 tahun.
CARA PENGENDALIAN
Pengendalian Mekanis
Pengendalian mekanis dapat dilakukan menggunakan lem serangga yang dipasang di batang pohon kelapa dengan rentang selama tiga bulan sekali. Selain itu, model perangkap MLA juga mampubisa menangkap nimfa dan imago Sexava lebih banyak.
Pengendalian Teknis
Penerapan sanitasi kebun secara rutin, memotong dan membakar bagian yang terserang di luar kebun, dan penanaman tanaman sela dapat dilakukan untuk mengurangi populasi belalang pedang.
Pengendalian Hayati
Penggunaan bioinsektisida seperti jamur metarhizium ansopliae dapat dilakukan. Selain itu, aplikasi insektisida nabati seperti sereh wangi, parutan daun tembakau, akartuba/derris dicampur sedikit sabun dan minyak goreng juga dapat menjadi salah satu cara. Cara lainnya yaitu penyemprotan suspensi jamur patogen serangga atau penggunaan metabolit sekunder APH.
Pengendalian Kimia
Untuk areal Perkebunan kelapa yang luas, dapat disemprotkan bahan Diazininon seperti Basudin 90 SCO/ha, dengan jangka waktu ulang 2 bulan sekali. Pemprotan semak-semak di bawah pohon kelapa untuk membunuh belalang yang masih mudah juga dapat dilakukan menggunakan Basudin 60 ec. Selain itu, pengeboran maupun penyuntikan pohon kelapa menggunakan Phosphamidon dengan aturan 10-20 cc/ pohon, dengan jangka waktu ulang 2 bulan sekali.
REFERENSI
Ditjenbun. 2012. Profil Komoditi Kelapa: Cocos nucifera L. Direktorat Perlindungan Perkebunan – Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.
Kemala Nida. 2015. Kajian Pendapatan dan Konstribusi Usaha Tani Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Pendapatan Keluarga Petani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi. Vol. 15(3): 125-132.
Simpala MM, Kusuma A. 2017. Kelapa. Lily Publisher. Yogyakarta.