Larva Kupu-Kupu Papilio sp. Sebagai Hama Tanaman Buah

Larva Kupu-Kupu Papilio sp. Sebagai Hama Tanaman Buah
05
Jumat, 5 April 2024

Gambar 1. Kupu-Kupu Dewasa dari Papilio demoleus L., Jantan (Kiri) & Betina (Kanan) (Jahnavi et al., 2018).

Kupu-kupu termasuk dalam ordo Lepidoptera dan memiliki beragam spesies berbeda. Menurut perkiraan, terdapat hingga 17.280 spesies kupu-kupu di dunia. Lebih dari 2.000 spesies kupu-kupu terdapat di Indonesia, dengan perkiraan 640 spesies ditemukan di Pulau Jawa ketika survei dilakukan di kawasan yang masih alami. Selain itu, Pulau Jawa merupakan habitat bagi 46 spesies kupu-kupu endemik pulau tersebut. Siklus hidup mereka mulai dari telur, larva (instar 1-5), pupa atau kepompong, dan individu dewasa sebagai kupu-kupu. Kupu-kupu berperan sebagai herbivora selama tahap larva, atau dapat disebut juga dengan ulat, untuk mengumpulkan nutrisi sebelum tahap kepompong (Shahroni et al., 2022). Di tahap ini, mereka bertahan dari 17 hari hingga 40 hari yang bergantung pada kondisi lingkungan dan jenis tanaman inangnya (Riaz et al., 2020). Salah satu ulat yang dapat ditemukan di Indonesia adalah Papilio sp. Berikut ini beberapa ulat Papilio sp. yang ditemukan di Indonesia berdasarkan observasi dari Shahroni et al. (2022) (Gambar 2).

Gambar 2. Ulat dari Kupu-Kupu Papilio sp. A) P. demoleus, B) P. demolion, C) P. helenus, D) P. memnon, E) P. peranthus, F) P. polytes (Shahroni et al., 2022).

Ulat Papilio demoleus merupakan salah satu spesies yang bersifat hama. Mereka terkenal sebagai hama yang paling merusak di perkebunan jeruk, terutama di pembibitan (Riaz et al., 2020). Serangan yang parah terjadi pada tahap larva instar akhir yang mengakibatkan penggundulan pohon dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman serta menurunkan hasil buah (Jahnavi et al., 2018). Laporan sebelumnya telah menemukan bahwa ulat Papilio demoleus memakan daun dari setidaknya 18 varietas atau kultivar jeruk, meskipun terdapat perbedaan dalam tingkat konsumsi makanan, waktu perkembangan dan kematian. Berbagai subspesies juga diamati memakan Fabaceae, Rhamnaceae, Anacordiaceae, Sapindaceae, dan Apiaceae. Urutan preferensi inang dari ulat ini adalah Citrus sinensis, Murraya koenigii, Cistrus aurantifolia. Literatur melaporkan bahwa tingkat defoliasi daun Citrus sinensis oleh larva tersebut sebesar 83% dan daun Citrus aurantifolia sebesar 40%. Dikombinasikan dengan migrasi yang luas, pertumbuhan yang cepat, jangkauan inang yang relatif luas, kemampuan untuk merespon dengan cepat terhadap variasi lingkungan, dan kemampuannya berkamuflase menyebabkan potensi ancaman yang ditimbulkan oleh spesies ini dapat menjadi “badai sempurna” bagi industri jeruk (Riaz et al., 2020).

Terkadang cukup sulit untuk mendeteksi kupu-kupu pada tahap ulat di alam. Ulat mungkin menggunakan beberapa strategi unik saat menghindari ancaman predator. Mereka menggunakan adaptasi mimesis yang menyesuaikan penampilan mereka dengan lingkungan sekitar. Setiap kelompok kupu-kupu mengembangkan cara adaptasinya, seperti mengambil ciri-ciri tanaman yang menjadi inang atau meniru kepala ular atau kotoran burung (Shahroni et al., 2022). Ulat Papilio sp., terkhususnya Papilio demoleus, mampu berkamuflase menyerupai kotoran burung pada tahap larva instar 1-4 dan menyerupai daun tanaman inangnya pada tahap larva instar 5. Kemampuan kamuflase ini akan mengelabui calon pemangsa agar mengabaikannya karena dianggap sebagai benda mati dan kamuflase ini bertujuan agar mereka sulit dilihat (Jahnavi et al., 2018). Selain berkamuflase, spesies lain, yaitu Papilio machaon memiliki kelenjar pertahanan yang disebut sebagai osmeterium. Kelenjar ini terletak di bagian tengah punggung tepat di belakang kepala yang dapat mengeluarkan cairan racun. Pengujian sebelumnya menjelaskan bahwa cairan tersebut mengandung asam karboksilat, asam isobutirat (I), asam siklopropana karboksilat, asam isovalerat, dan asam 2-metilbutirat (Eisner & Meinwald, 1965).

PENANGGULANGAN

Agen Biologi

Tercatat bahwa spesies laba-laba Nephila sp. (Arachnida: Araneidae) dan spesies burung Oriolus steerii (Passeriformes: Oriolidae) memakan Papilio demoleus di Filipina. Penemuan lainnya mencatat bahwa lalat Erycia nymphalidophaga (Diptera: Tachinidae), kumbang Cantheconidea furcellata dan Proxys punctulatus menjadi parasit pada larva Papilio demoleus. Parasit Hymenopteran pada telur antara lain Ooencyrtus malayensis dan Ooencyrtus papilionis (Encyrtidae), spesies Tetrastichus sp. (Eulophidae) Trichogramma sp. (Trichogrammatidae) dan Telenomus sp. Sedangkan, parasitus pada pupa antara lain Brachymeria sp. (Chalcididae) dan Pteromalus puparum. Kehadiran parasitoid Pteromalus puparum (Hymenoptera: Pteromalidae) dilaporkan secara signifikan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dari Papilio demoleus. Selain itu,  sekitar 70% larva Papilio demoleus diparasit oleh Apanteles papilionis. Penelitian lain menemukan bahwa tingkat parasitisme alami pada telur dan larva Trichogramma chilonis dan/atau Telenomus sp. setinggi 76% (Riaz et al., 2020).

Pestisida Sintetik

Pestisida sintetik digunakan untuk pengendalian hama skala besar di sebagian besar lingkungan pertanian karena efektivitasnya yang tinggi dan biaya yang relatif rendah. Penggunaan pestisida sintetik meningkat pesat di banyak negara, khususnya di negara berkembang. Namun, peraturan seputar senyawa pestisida sintetik yang digunakan juga meningkat secara global karena kekhawatiran mengenai toksisitas dan keamanan lingkungan, serta kemungkinan berbahaya bagi musuh alami spesies hama. Pengujian sebelumnya menemukan bahwa piretroid sipermetrin lebih toksik terhadap larva Papilio demoleus dibandingkan fitopestisida Biosal® (ekstrak dari buah Azadirachta indica), sedangkan hasil dari piretroid deltametrin menunjukkan kemanjuran yang sedikit lebih rendah dibandingkan Biosal®. Piretroid pada konsentrasi hanya 0,01% mampu secara efektif menekan infestasi larva Papilio demoleus dengan tingkat kematian masing-masing sebesar 94%, 88% dan 78% untuk deltametrin, fenvalerat, dan permetrin. Selain itu, organofosfat oksidemeton-metil dan formotion memberikan tingkat kematian sebesar 76% dan 70%. Studi lain menemukan bahwa pestisida novaluron dan emamektin benzoat menunjukkan efek ovisidal terhadap telur dari Papilio demoleus dengan tingkat kematian masing-masing sebesar 95% dan 85%. Juga pada ekstrak mimba dan klorpirifos menyebabkan 59% kematian (Riaz et al., 2020).

Fitopestisida

Fitopestisida sering kali terdiri dari kombinasi senyawa/ekstrak yang berasal dari tumbuhan dan minyak atsiri dengan aktivitas sinergis untuk mencegah penumpukan resistensi. Pestisida ini umumnya dianggap lebih aman dan dapat terurai secara hayati dibandingkan pestisida sintetik konvensional. Dalam beberapa kasus, fitopestisida mungkin menawarkan pengendalian hama yang memadai dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan pestisida sintetis. Inhibitor protease Bowman-Birk yang dimurnikan dari black gram (Vigna mungo) dan red gram (Cajanus cajan) menunjukkan aktivitas penghambatan tingkat sedang hingga rendah terhadap proteinase endogen yang ditemukan di Papilio demoleus dan beberapa hama Lepidopteran lainnya (Riaz et al., 2020).

Fitopestisida dapat diaplikasikan juga dengan cara menyemprotkan ke bagian daun tanaman dimana fitopestisida dapat bertindak sebagai anti-feedant. Forskolin yaitu labdane diterpene yang berasal dari tanaman Coleus forskohlii merupakan anti-feedant yang efektif pada konsentrasi 200 ppm, sama dengan atau lebih baik daripada insektisida sintetik. Penelitian selanjutnya menunjukkan asam betulinic dari Ziziphus jujube, andrographolide dari Andrographis paniculata dan azadirachtin dari Azadirachta indica juga menunjukkan aktivitas anti-feedant yang kuat (Riaz et al., 2020).

Pestisida Mikroba

Pestisida mikroba adalah organisme mikroba, seperti bakteri atau jamur, yang digunakan untuk pengendalian hama secara biologis. Racun yang dihasilkan oleh organisme mikroba ini biasanya bertanggung jawab menyebabkan kematian spesies target, bukan menyebabkan mikroorganisme itu sendiri menjadi berbahaya. Salah satu mikroorganisme yang paling umum digunakan adalah Bacillus thuringiensis. Bakteri ini sangat efektif melawan sebagian besar larva Lepidopteran. Percobaan sebelumnya melaporkan bahwa spesies Bacillus subtilis M419 dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian larva Papilio demoleus akibat produksi metabolit sekundernya, terutama biosurfaktan lipopeptida. Studi lain menemukan bahwa Bacillus thuringiensis dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan Papilio demoleus secara luas dan menurunkan fekunditas, bahkan pada konsentrasi rendah (angka kematian 75%, 100%, 100% dan 100% pada konsentrasi 0,25, 0,5, 1,0 dan 2,0 mg/ml, masing-masing). Selain itu, Bacillus thuringiensis strain Aizawai EF495116 sebagai isolat baru yang diisolasi di Iran menyebabkan larva Lepidopteran mati karena protein parasporal menunjukkan toksisitas yang kuat terhadap larva. Strain Bacillus thuringiensis (SY49.1) yang diisolasi dari Turki juga dilaporkan sangat patogen dan mengandung beberapa gen cry yang bertanggung jawab atas produksi inklusi kristal dengan aktivitas insektisida spektrum luas (Riaz et al., 2020).

REFERENSI

Eisner, T., & Meinwald, Y.C. (1965). Defensive secretion of caterpillar (Papilio). Science, 150: 1-3.

Jahnavi,M., Rao, A.R., & G, Sarada. (2018). Biology and morphology of citrus butterfly Papilio demoleus Linnaeus (Lepidoptera: Papilionidae) on acid lime. Journal of Entomology and Zoology Studies, 6(1):1556-1561.

Riaz S, Johnson JB, Rasheed T, Wiemers M. (2020). Morphology, life cycle and management of two invasive subspecies of Papilio demoleus (Lepidoptera: Papilionidae): A review. J. Appl. Entomol, 00:1–12. https://doi.org/10.1111/jen.12828.

Shahroni, A.M., Shidiq, F.I.A., Soenarko., Lutfi, I., & Djunijanti, P. (2022). Record on some caterpillar of butterflies (Lepidoptera: Papilionoidea) in East Java, Indonesia. Treubia, 49(1):25-40. DOI: 10.14203/treubia.v49i1.4387.

KONSULTASI DENGAN AHLI HAMA